Sabtu, 27 Oktober 2012

♥ JIKA BOLEH MEMILIH ♥


Aku Lebih Memilih Tidak Mengenalmu daripada Harus Melupakanmu..

Cinta..

Dengan cinta, terlerai
permusuhan..

Dengan cinta, yang lemah menjadi perkasa..

Dengan cinta, hujan berguguran,
Dan dengan cinta, kita menerima ISLAM..

Bila kau mencintaiku karena Allah,berpisah denganku pun tak gelisah..

Bila rindu karena yang satu,
bertemu denganku pasti tak pernah jemu..

Bila cintamu karena nafsu,
berpisah denganku tak menentu..
Hidup juga jemu..

Cinta Sejati bukan pada apa yang
dihebohkankan,Namun PENGORBANAN tanpa diketahui..

Indahnya jika dapat jadi WANITA YANG SEDERHANA,yang BELAJAR mencintai Allah, belajar mencintai Rasulullah, dan belajar mencintai akhirat..

Ditambah lagi jika ada "PENDAMPING" yang sama-sama belajar untuk MEMPERBAIKI DIRI, menjadi terindah dan sangat TERINDAH pada pandangan Illahi..

SubhanAllah..

Ya Allah..

izinkanlah aku jadi wanita sederhana yang MENCINTAI AKHIRAT..

kabulkanlah Ya Allah..

Aamiin Ya Rabbal'alamiin..

✿‿✿ JODOH oh JODOH ✿‿✿



Kalo jodoh ga bakal kemana..
Kalo bukan jodoh pasti kemana-mana..

Jangan pernah mendahului Allah dengan berkeyakinan bahwa:

Seseorang adalah jodoh kita, sebelum akad Suci itu tiba..

Karena Allah Maha Pembolak-balik hati..

Segala sesuatu bisa saja terjadi..

Maka janganlah berbuka sebelum waktunya!!

Jangan memanen sebelum masanya!!

Dan jangan merasa memiliki apa yang belum menjadi hak kita..

✿‿✿ Just Motivasi ✿‿✿

Selasa, 25 September 2012

Adab pernikahan

*Maaf, untuk sementara tag ini diprioritaskan (diutamakan) bagi yg sudah lulus TK, SD, SMP, dan SMK/SMA. Serta untuk kalangan S1, S2 dan S3. ^_^

sebab SYARAT Nikah harus lulus...

TK = Tentang Kesetiaan

SD = Saling Dewasa

SMP = Saling Mengerti Perasaan

SMK = Saling Menerima Kekurangan

SMA = Saling Menerima Apa adanya

S1 = Setia
S2 = Sehidup Semati
S3 = Saling Setia dan Sayang

^____^
Berikut Nasihat Pernikahan oleh Habibana Munzir Al-Musawa :

Kita lihat bagaimana sang Nabi bersabda riwayat Shohih Bukhori: “Tazawwajuu walau bikhootim min hadiid” nikahlah kalian walau dengan mahar cincin dari besi”. Ini hadirin-hadirot, hadits yang tampaknya singkat saja, walaupun mengandung sedemikian banyak hikmah-hikmah mulia. Disini sang Nabi mengangkat harga terbesar untuk kaum wanita, kalau kita membaca sekilas seakan-akan ini menghina kaum wanita, masa’ mahar dari cincin besi? Berapa harga cincin besi? di jalan juga banyak besi dibikin cincin.

Hadirin-hadirot, justru disini Rosul SAW ingin mengajarkan bahwa mahar BUKAN untuk membeli wanita. Sebagian orang salah paham, mahar adalah untuk membeli dan menghalalkan wanita. Wanita TIDAK BISA dibeli kehormatannya, oleh sebab itu Rosul SAW memberikan mahar yang demikian kecilnya dalam akad nikah, demi untuk apa?, pertama menjaga perzinahan. Banyak pria dan wanita yang sudah ingin menikah tertahan gara-gara belum adanya harta yang banyak, akhirnya terjadi pernikahan dan kehamilan sebelum menikah, ini yang pertama. Yang kedua, menghargai derajat wanita tersebut, menghargainya dengan adab dan akhlaq, BUKAN dengan harta atau emas dan perak, kalau yang menghargainya dengan emas dan perak yang mahal, maharnya sudah sedemikian mahalnya, maka selesai ia menikah ada perkataan; "engkau milikku", "sudah besar-besar ku keluarkan maharnya", kan kira-kira begitu? tentunya tidak demikian. Islam menghargai kaum wanita. Ini mahar yang demikian tiada artinya, dalam hadiah dipersilahkan mahar semahal apapun.

Hadirin-hadirot, Rosul SAW meneruskan lagi ”Aulim walau bi syaah” Riwayat Shohih Bukhori, adakan jamuan pernikahan “jamuan pernikahan itu sunnah, walau dengan seekor kambing yang disembelih saja”. Berfikir puluhan juta, ratusan juta, makin murah makin malu, justru makin mahal makin jauh dari sunnah Nabi Muhammad SAW, semakin besar boleh-boleh saja, tapi yang sunnah adalah yang sederhana. Hadirin-hadirot ini yang mesti dipahami oleh muslimin-muslimah yang akan menikah atau yang putra-putrinya akan menikah atau yang kelak mempunyai anak yang akan menikah. Perhatikan sunnah Nabi Muhammad SAW, hal ini membawa keberkahan.

Diriwayatkan dalam Shohih Bukhori: “lewatlah seorang pemuda yang kaya raya non muslim, Rosul SAW berkata : apa pendapat kalian tentang pemuda ini? maka orang yang disekitarnya berkata: orang kaya raya, orang merdeka, melamar siapa pun pasti diterima, kalau ia berbicara pasti didengar ucapannya, kalau ia minta tolong semua orang akan menolong, kalau dimintai pertolongan semuanya, dia akan mampu memberikan pertolongan. Lalu lewat orang kedua, pemuda yang miskin muslim, pendapat kalian apa tentang pemuda ini? Maka mereka berkata: pemuda ini muslim tapi miskin, kalau seandainya ia dimintai bantuan belum tentu ia mampu membantu, kalau ia meminta bantuan belum tentu ada yang mau membantunya, kalau ia berbicara belum tentu orang mau dengar ucapannya, maka Rosul SAW bersabda : “Ini (menunjuk kepada pria yang miskin tadi) lebih afdhol dari sepenuh dunia pria yang tadi. Pria yang ini sepenuh dunia ini lebih afdhol”.

kita Tanya, kenapa Rosululloh SAW berpendapat seperti itu? Rosul ingin mengangkat derajat dan kemuliaan yang hakiki dalam kehidupan, inilah kemuliaan, inilah hal-hal yang sangat luhur, dan inilah hal yang hina dimata Alloh SWT. Ukuran kekayaan bukanlah ukuran, karena kehidupan dunia sementara, setelah itu ada yang kaya raya dengan istana megah yang kekal, merekalah orang yang bertaqwa kepada Alloh. Kekayaan dan kemiskinan di dunia hanyalah sandiwara dan sementara saja, kesedihan dan kegembiraan di dunia adalah sesaat dan setelah itu akan muncul dua tempat bagi setiap orang yang hidup di atas permukaan bumi, dua tempat. Tempat orang-orang yg diridhoi oleh Alloh yaitu surga-Nya dalam kebahagiaan yang kekal, atau dalam kemurkaan Alloh dalam api neraka, hanya dua tempat, tidak ada tempat yang ketiga, kalau tidak disini ya disini, kalau tidak disurga pasti dineraka, kalau tidak dineraka pasti disurga, salah satu dari dua, kemana kita? Demikian hadirin hadirot yang dimuliakan Alloh.

wAllohu a'lam bishowaab :)

*Semoga bermanfaat :)

cara menilai seseorang


[Jangan Langsung Menilai Seseorang itu Baik atau Buruk]

Sesungguhnya, orang yang baik ialah orang yang dipandang baik menurut Alloh di akhirat kelak.

Dalam hal ini, tidak seorang pun dari makhluk Alloh dapat mengetahuinya, karena penilaian baik dan buruknya seseorang masih ditangguhkan sampai akhir hayatnya.

Dengan demikian, pandangan seseorang bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain adalah suatu kebodohan belaka.

*(budayakan membaca, baru me-like:))*
Selanjutnya silahkan simak kisah berikut :)

Ada seorang sahabat yang menemui seorang pemimpin yang alim dan sholeh. Dia orang yang sangat sopan, terkenal menghargai setiap orang dan mempunyai pribadi yang sangat menyenangkan.

Ketika ditanya oleh sahabat tersebut apa TIPS agar dia mempunyai pribadi yang MENYENANGKAN, RENDAH HATI dan DISENANGI banyak orang, pemimpin yang sholeh itu menjawab:

”Saudara, saya SELALU mengHARGAi SETIAP ORANG, siapapun dia, dan saya SELALU mengHARGAi setiap KESEMPATAN”

•"Jika saya berjumpa dengan ANAK-ANAK, saya menganggap anak-anak itu LEBIH MULIA daripada saya, karena anak-anak itu BELUM BANYAK melakukan DOSA daripada saya.”

•” Apabila saya bertemu dengan ORANG TUA, saya menganggap dia LEBIH MULIA daripada saya karena dia sudah LEBIH LAMA berIBADAH."

•”Jika saya berjumpa dengan ORANG ALIM, saya menganggap dia LEBIH MULIA daripada saya karena BANYAK ILMU yang telah mereka pelajari dan ketahui."

•"Apabila saya berjumpa dengan RAKYATku, saya menganggap dia LEBIH MULIA daripada saya karena dia tidak akan DIMINTA PERTANGGUNG-JAWABAN seberat saya, dan mungkin di mata Alloh dia LEBIH MULIA karena lebih berTAQWA."

•”Apabila saya melihat ORANG JAHIL (BODOH), saya menganggap mereka LEBIH MULIA daripada saya karena mereka membuat DOSA dalam keJAHILan, sedangkan saya membuat DOSA dalam keadaan MENGETAHUI."

•”Jika saya melihat ORANG JAHAT, saya TIDAK menganggap diri saya LEBIH MULIA, karena mungkin satu hari nanti dia akan INSAF dan BERTAUBAT atas kesalahannya sehingga dia DICINTAI oleh Alloh."

•”Apabila saya bertemu dengan ORANG KAFIR, saya mengatakan didalam hati bahwa mungkin pada suatu hari nanti mereka akan DIBERI HIDAYAH oleh Alloh dan akan memeluk Islam, maka segala dosa mereka akan DIAMPUNI oleh Alloh.”

Dan...
Karena sesungguhnya kita TIDAK TAHU apakah AKHIR HIDUP kita lebih LEBIH MULIA atau LEBIH HINA dari mereka.

maka sesungguhnya kita juga TIDAK TAHU apakah kita akan mendapat AMPUNAN dan RAHMAT dari Alloh sehingga nantinya menjadi penghuni SURGA, atau sebaliknya kita pada akhirnya TERPEROSOK dalam DOSA di AKHIR HIDUP kita sehingga akhirnya masuk ke dalam NERAKA dan mereka SEBALIKNYA.

Sungguh KEMULIAAN adalah bila selamat dari NERAKA dan dimasukkan oleh Alloh ke dalam SURGA.

KEHIDUPAN DUNIA adalah FATAMORGANA yang MENIPU, dan hanya Alloh yang mengetahui KEMULIAAN seseorang."

Sebagaimana Rosululloh shollalloohu ’alaihi wa sallam telah bersabda (dari Abu Abdurahman Abdullah ibn Mas'ud ra) :

”Sesungguhnya seseorang di antara kamu dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari berupa air mani. Kemudian 40 hari menjadi segumpal darah, kemudian 40 menjadi sepotong daging.

Kemudian diutuslah seorang Malaikat untuk MENIUPKAN ROH kepadanya dan diperintah dengan 4 (macam) perintah, yaitu meNULISkan REZEKInya, AJALnya, AMALnya, dan CELAKAnya atau BAHAGIAnya.

Demi Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya seseorang diantara kamu melakukan AMAL AHLI SURGA hingga tiada jarak antara dirinya dengan SURGA melainkan hanya SEJENGKAL saja, Lalu dia didahului oleh CATATAN TAKDIRnya dan beramal dengan AMAL AHLI NERAKA, maka masuklah dia ke NERAKA.

Dan (ada pula) seseorang diantara kamu melakukan AMAL AHLI NERAKA hingga tiada jarak antara dirinya dengan NERAKA melainkan hanya SEJENGKAL saja, Lalu dia didahului oleh CATATAN TAKDIRnya dan beramal dengan AMAL AHLI SURGA, maka masuklah dia ke SURGA”

(HR. Bukhori, Muslim)

Akhirnya dengan mengangguk-angguk sahabat tadi berkata : "Subhanalloh dengan HIKMAH ini, semoga Engkau akan selalu MEMULIAKAN orang lain dan MEMULIAKAN KESEMPATAN , sehingga akan DIMULIAKAN oleh Allohu subhanahu wa ta'la"
Pemimpin tersebut menjawab : "Aamiin yaa Robbal 'aalamiin"

Wallohu a'lam bish-showab
Semoga dapat mengambil HIKMAH dan mengamalkannya, aamiin.

Sabtu, 19 Mei 2012

Wanita Pertama yang Masuk Syurga



(Siapa yaa kira-kira wanita tersebut,, mungkinkah ibu kita ?? atau mungkin istri kita ?? atau mungkin sarinem ?? desiyem ?? tugiyem ?? atau siapa ??) Mau tahu jawabannya, monggo disimak ^_^
------------------------------------------------------------------------

Wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali adalah seorang wanita yang bernama MUTI'AH. Haaa!! What's Up !!
Kaget ???,,,
Sama seperti Siti Fathimah ketika itu, yang mengira dirinyalah yang pertama kali masuk surga. ^__^

By the Way any Bus Way....

Siapakah Muti’ah itu ? Karena rasa penasaran yang tinggi, Siti Fathimah pun mencari seorang wanita yang bernama Muti’ah ketika itu. Beliau juga ingin tahu, amal apakah yang bisa membuat wanita itu bisa masuk surga pertama kali? Setelah bertanya-tanya, akhirnya Siti Fathimah mengetahui rumah seorang wanita yang bernama Muti’ah.

Kali ini ia ingin bersilaturahmi ke rumah wanita tersebut, ingin melihat lebih dekat kehidupannya. Waktu itu, Siti Fathimah berkunjung bersama dengan anaknya yang masih kecil, Hasan. Setelah mengetuk pintu, terjadilah dialog.
“Di luar, siapa?” kata Muti’ah tidak membukakan pintu.
“Saya Fathimah, putri Rosululloh”
“Oh, iya. Ada keperluan apa?”
“Saya hanya berkunjung saja”
“Anda seorang diri atau bersama dengan lainnya?”
“Saya bersama dengan anak saya, Hasan?”
“Maaf, Fathimah. Saya belum mendapatkan izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki”
“Tetapi Hasan masih anak-anak..”
“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga kan? Maaf ya. Kembalilah besok, saya akan meminta izin dulu kepada suami saya”
“Baiklah” kata Fathimah dengan nada kecewa. Setelah mengucapkan salam, ia pun pergi.

Keesokan harinya, Siti Fathimah kembali berkunjung ke rumah Muti’ah. Selain mengajak Hasan, ternyata Husein (saudara kembar Hasan) merengek meminta ikut juga. Akhirnya mereka bertiga pun berkunjung juga ke rumah Muti’ah. Terjadilah dialog seperti hari kemarin.
“Suami saya sudah memberi izin bagi Hasan”
“Tetapi maaf, Muti’ah. Husein ternyata merengek meminta ikut. Jadi saya ajak juga!”
“Dia perempuan ?”
“Bukan, dia lelaki”
“Wah, saya belum memintakan izin bagi Husein.”
“Tetapi dia juga masih anak-anak..”
“Walaupun anak-anak, dia juga lelaki. Maaf ya. Kembalilah esok!”
“Baiklah” Kembali Siti Fathimah kecewa.
Namun rasa penasarannya demikian besar untuk mengetahui, rahasia apakah yang menyebabkan wanita yang akan dikunjunginya tersebut diperkanankan masuk surga pertama kali. Akhirnya hari esok pun tiba. Siti Fathimah dan kedua putranya kembali mengunjungi kediaman Mutiah. Karena semuanya telah diberi izin oleh suaminya, akhirnya mereka pun diperkenankan berkunjung ke rumahnya. Betapa senangnya Siti Fathimah karena inilah kesempatan bagi dirinya untuk menguak misteri wanita tersebut.
Menurut Siti Fathimah, wanita yang bernama Muti’ah sama juga seperti dirinya dan umumnya wanita. Ia melakukan sholat dan lainnya. Hampir tidak ada yang istimewa. Namun, Siti Fathimah masih penasaran juga. Hingga akhirnya ketika telah lama waktu berbincang, “rahasia” wanita itu TIDAK terkuak juga. Akhirnya, Muti’ah pun memberanikan diri untuk memohon izin karena ada keperluan yang harus dilakukannya.
“Maaf Fathimah, saya harus ke ladang!”
“Ada keperluan apa?”
“Saya harus mengantarkan makanan ini kepada suami saya”
“Oh, begitu”

Tidak ada yang salah dengan makanan yang dibawa Muti’ah yang disebut-sebut sebagai makanan untuk suaminya. Namun yang tidak habis pikir, ternyata Muti’ah juga membawa sebuah cambuk.
“Untuk apa cambuk ini, Muti’ah?” kata Fathimah penasaran.
“Oh, ini. Ini adalah kebiasaanku semenjak dulu”
Fathimah benar-benar penasaran. “Ceritakanlah padaku!”
“Begini, setiap hari suamiku pergi ke ladang untuk bercocok tanam. Setiap hari pula aku mengantarkan makanan untuknya. Namun disertai sebuah cambuk. Aku menanyakan apakah makanan yang aku buat ini enak atau tidak, apakah suamiku seneng atau tidak. Jika ada yang tidak enak, maka aku ikhlaskan diriku agar suamiku mengambil cambuk tersebut kemudian mencambukku. Ini aku lakukan agar suamiku ridlo dengan diriku. Dan tentu saja melihat tingkah lakuku ini, suamiku begitu tersentuh hatinya. Ia pun ridlo atas diriku. Dan aku pun ridlo atas dirinya”
“Masya Alloh, hanya demi menyenangkan suami, engkau rela melakukan hal ini, Muti’ah?”
“Saya hanya memerlukan keridloannya. Karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan sang suami ridlo kepada istrinya”
“Ya… ternyata inilah rahasia itu”
“Rahasia apa ya Fathimah?” Muti'ah juga penasaran.
“Rosululloh Saw mengatakan bahwa dirimu adalah wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali. Ternyata semua gara-gara baktimu yang tinggi kepada seorang suami yang sholeh.”

Subhanalloh,, semoga kita (khususnya bagi yang bergelar istri ataupun calon istri) semoga bisa meneladani apa yang diperbuat oleh Muti'ah serta menjadi wanita yang Sholihah, aamiin :)

Nasihat dari Rosululloh SAW :

"Apabila seorang ISTRI melaksanakan sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatan/ kemaluannya dan ta'at kepada suaminya dalam hal kebaikan, niscaya akan dikatakan kepadanya; 'Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu inginkan" (HR. Ahmad)

Senin, 19 Maret 2012

Akhlak muslimah

Muslimah cantik, menjadikan malu sebagai mahkota kemuliaannya…” (SMS dari seorang sahabat)
Membaca SMS di atas, mungkin pada sebagian orang menganggap biasa saja, sekedar sebait kalimat puitis. Namun ketika kita mau untuk merenunginya, sungguh terdapat makna yang begitu dalam. Ketika kita menyadari fitrah kita tercipta sebagai wanita, mahkluk terindah di dunia ini, kemudian Allah mengkaruniakan hidayah pada kita, maka inilah hal yang paling indah dalam hidup wanita. Namun sayang, banyak sebagian dari kita—kaum wanita—yang tidak menyadari betapa berharganya dirinya. Sehingga banyak dari kaum wanita merendahkan dirinya dengan menanggalkan rasa malu, sementara Allah telah menjadikan rasa malu sebagai mahkota kemuliaannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاء
“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain,
الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَر
“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”(HR. Al Hakim dalam Mustadroknya 1/73. Al Hakim mengatakan sesuai syarat Bukhari Muslim, begitu pula Adz Dzahabi)